Diduga Ditampar Oknum Guru, Siswa SMP Masuk Puskesmas

AKNKajen – Rd (16), siswa Kelas IX yang menjadi korban penamparan oleh oknum gurunya, Jumat (10/4) sudah tak lagi menjalani perawatan di Puskesmas.

DIJENGUK – Anggota Polri sedang menjenguk Rd (16),
siswa Kelas IX yang menjadi korban penamparan oleh oknum gurunya.

Korban sudah dipulangkan ke rumah oleh orang tuanya. Namun korban saat ditemui kemarin masih terbaring lemah di rumahnya, Dukuh Karangmalang RT 02 RW 13, Kelurahan Setono, Pekalongan Timur, Kota Pekalongan.

Ibu korban, Sarminah (36), mengaku terpaksa memulangkan anaknya dari Puskesmas, meski kondisi si anak belum sehat. “Kami bawa dia pulang, karena kalau kami di Puskesmas terus repot, tidak ada yang mengurus anak-anak yang di rumah,” ujarnya.

“Anak saya yang lain masih kecil-kecil. Selain itu dia (Rd, red) juga tidak betah rawat inap. Jadi saya bawa pulang Kamis sore. Seharusnya memang baru boleh pulang hari Jumat ini, sebab hasil diagnosanya belum ada,” imbuh dia.

Penamparan oleh oknum guru ke siswa itu, sangat disayangkan oleh Sarminah. Apalagi kejadian itu disebabkan hanya karena siswa memakai sepatu warna merah. Padahal, ungkap Sarminah, sepatu merah itu adalah satu-satunya sepatu yang dimiliki anaknya.

Diungkapkan, sepatu milik anaknya yang berwarna hitam sudah lama rusak. Namun dirinya belum bisa membelikan sepatu lagi. “Anak saya hanya punya sepasang sepatu, ya…yang warna merah itu. Sepatu itu juga sudah beberapa bulan dipakai, tapi sebelumnya tidak ada masalah. Baru kali ini terjadi seperti ini. Semoga tidak terjadi lagi kasus seperti ini,” harapnya.

Sebagaimana yang dituturkan Rd, pada hari Selasa (7/4) pagi sebelum mengikuti ujian di hari pertama, dirinya ketahuan menggunakan sepatu berwarna merah. Sehingga dirinya ditegur oleh salah seorang oknum guru IPS berinisial Fj.

“Saya diminta melepas sepatu saya. Kemudian saya jawab, saya lepas di sini ya, pak. Saat saya mau melepas sepatu itu, tiba-tiba saya ditampar di pipi bagian kiri,” katanya.

Namun setelah itu dirinya diperbolehkan mengikuti ujian sekolah dihari pertama itu dengan jadwal mata pelajaran Matematika. Usai kejadian dirinya tidak merasakan sakit siang usai kejadian. “Setelah ujian saya pulang tapi tidak memakai sepatu, sebab sepatu saya disita pak guru. Usai ujian masih tidak terasa sakit, sore baru mulai terasa pusing dan muntah-muntah,” terangnya.

Ayah korban, Murapno (37), yang berprofesi sebagai tukang ojek, menuturkan setelah kejadian itu dirinya mengonfirmasi ke oknum guru IPS tersebut di sekolah. Namun, guru itu membantah telah menampar Rd. “Dia ngakunya tidak menampar anak saya. Katanya dia hanya njawil (mencolek, red),” katanya.

PERMINTAAN MAAF
Ia pun meminta pertanggungjawaban ke Fj, si oknum guru IPS. Dikatakan, Fj dan dari pihak sekolah sudah menengok ke Puskesmas saat Rd sedang dirawat. Oknum guru tersebut juga sudah datang ke rumah dan meminta maaf.

Setelah itu, Murapno mengaku dirinya dipanggil pihak sekolah pada hari Kamis pagi. Selanjutnya, dia dikasih uang Rp 200 ribu oleh si oknum guru. “Saya dikasih uang Rp 200 ribu. Katanya itu uang untuk membeli sepatu buat anak saya, karena sepatu yang merah sudah disita guru,” ungkapnya.

Murapno pun mengaku secara pribadi sudah memaafkan oknum guru tersebut. Namun dia mengharapkan agar hal serupa jangan sampai terjadi lagi ke depannya. “Kalau anak saya bandel, ya silakan diperingatkan, tapi tidak usah dipukul. Semoga kasus seperti ini tidak terulang lagi ataupun menimpa siswa lain,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala SMPN 5 Pekalongan, Ani yuliati menyatakan, tidak ada tindak kekerasan dari jajaran guru terhadap siswanya. “Tidak ada terjadi tindak kekerasan kapada siswa, para guru sebagaimana hari pertama ujian, sebelum masuk ujian, siswa di kumpulkan di lapangan sekolah untuk diberikan pengarahan dan persiapan untuk mengikuti ujian, apabila ada siswa yang tidak tertib guru menegur dan mengarahkan,” paparnya. Dia menambahkan,”Apabila ada siswa yang sedang sakit dan tidak mengikuti ujian maka siswa yang bersangkutan dapat mengikuti ujian susulan yang pelaksanaan ujiannya mulai tanggal 12 April”, tambahnya.

Sementara, guru Fj menyampaikan bahwa dirinya tidak melakukan kekerasan terhadap muridnya. Dia hanya mendorong wajah siswanya, dan diapun sudah menengok keadaan siswanya tersebut di rumahnya. “Tidak ada tindak kekerasan, saya hanya mendorong di bagian pipinya, saya pun sudah menengok keadaan siswa tersebut di rumahnya dan di puskesmas tempat dia dirawat, keadaannya semakin membaik, saya pun sudah memberikan sedikit bantuan kepadanya,” tutur Fj.

Kepala SMPN 5 menambahkan bahwa perwakilan guru dan wali kelas Rd juga sudah menengok keadaan Rd di puskesmas tempat dia dirawat, dan sudah memberikan santunan kepada pihak siswa Rd dan keluarganya.

sumber : radarpekalonganonline.com
Share on Google Plus

About Unknown

Portal berita yang dikelola oleh UKM Jurnalis Akademi Komunitas Negeri Kajen Rintisan Politeknik Negeri Bandung.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar